Maret 17, 2026

Kelompok 24 KKM Uniba Kunjungi Sentra Pembuatan Tempe Di Kecamatan Pontang

0
Kelompok KKM 24 Uniba saat melihat pencucian kedelai untuk pembuatan tempe di Kampung Kemuncangan, Desa Kelapian, Sabtu (22/7).

SERANG, KM – Untuk mengetahui perkembangan salah satu Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM ) di Kampung Kemuncangan, Desa Kelapian, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, mahasiswa Universitas Bina Bangsa (Uniba) Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 24 secara langsung melihat usaha pembuatan tempe milik pasangan suami isteri yakni Ruyani (72) dan Bahriah (70), Sabtu (22/7/2023).

Usaha yang digeluti pasangan suami istri itu sudah berjalan cukup lama dengan proses produksi yang masih menggunakan cara tradisional, di awali dengan memilah kedelai lalu mencucinya sampai bersih. Setelah itu, kedelai yang sudah dicuci kemudian di rebus, dan dilanjutkan dengan perendaman kedelai selama satu malam.

Proses selanjutnya adalah kedelai dicuci kembali sampai bersih kira-kira hingga air cucian itu benar-benar bening dan tampak tidak keruh. Saat dibersihkan, ini bersamaan dengan proses penghancuran kedelai.

Kedelai kemudian diangkat dan ditiriskan. Setelah itu, kedelai yang sudah siap tadi ditaburi dengan ragi tempe lalu diaduk. Langkah yang terakhir adalah pembungkusan. Bungkus tempe di sini menggunakan plastik sesuai ukuran yang diinginkan. Plastik yang digunakan untuk membungkus tempe sebelumnya sudah diberi lubang sebagai ventilasi.

“Sekitar 10 tahunan (buat tempat), ngga diajari, berjalan saja. Dulunya kan orang tuanya bisa (buat tempe), diturunkan dari orang tua jadi bikin sendiri,” kata pria lansia ini.

Diterangkan Ruyani, proses pembuatan tempe ini membutuhkan waktu 2 hari sampai tempe benar-benar jadi dan siap dipasarkan. Tempe yang sudah sedia kemudian dijual di masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah berkat usaha ini, udah ke Mekah (naik haji) tahun kemarin,” ungkapnya.

Ia menceritakan ketika dulu dalam sehari menghabiskan 25 kilogram kedelai dalam sehari namun untuk sekarang hanya bisa mengolah 10 kilogram.

“(Dulu) 25 kilo waktu masih muda sekarang 25 kilogram dibikin dua hari karena udah tua. Dari 10 kilo (mendapat penghasilan) sekitar Rp200 ribu,” tuturnya.

Sejauh ini, pasangan ini tidak menggunakan sosial media untuk memasarkan tempe ia selaku pemilik UMKM kurang mengetahui akan pentingnya jual beli online yang akan mempermudah proses pemasaran dan sangat membantu terutama pada masa digitalisasi seperti sekarang ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Bagian Tekhnologi Tepat Guna KKM 24 Uniba, Didi Rasidi yang melihat secara langsung pembuatan tempe, dengan cara pembuatan yang masih sangat sederhana, tentu jadi pengalaman yang luar biasa.

Ditambah lagi, kata Didi penjelasan yang disampaikan pemilik terkait proses pembuatan tempe sangat mendetail.

“Saya juga baru tau kalau proses pembuatan tempe ternyata tidak semudah yang dibayangkan, ditambah lagi kata abah banyak juga yang gagal ketika proses permentasi,” ujarnya.

“Ini ilmu yang sangat mahal tentunya, hanya saja ada beberapa kekurangan terutama dalam hal kebersihan, yang kita tau bahwa tempe makanan yang banyak mengandung gizi tapi jika pembuatan yang dilakukan tidak bersih, mungkin hilang kadar gizinya atau malah menjadi berbahaya,” tandasnya.

Ia berharap setelah adanya kunjungan dari mahasiswa Kelompok 24 KKM UNIBA ini nantinya bisa membantu kelancaran proses UMKM tempe dari pembuatan hingga pemasaran produk. (*)

Caption:
Kelompok KKM 24 Uniba saat melihat pencucian kedelai untuk pembuatan tempe di Kampung Kemuncangan, Desa Kelapian, Sabtu (22/7).

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *