Ketua HMI Cabang Cilegon : Penyebab Ledakan PT MCCI Harus Dibuka ke Publik, Jangan Ada yang Ditutupi

CILEGON, KM – Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cilegon, Tb Rizki Andika, mendesak pihak perusahaan PT MCCI, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta aparat penegak hukum untuk terbuka dan transparan terkait insiden ledakan yang terjadi di kawasan industri tersebut.
Menurut Rizki, masyarakat berhak mengetahui secara jelas penyebab ledakan serta unsur atau zat apa yang terkandung dalam uap maupun kebocoran yang muncul akibat insiden tersebut. Mengingat lokasi industri sangat dekat dengan permukiman warga, keterbukaan informasi menjadi hal yang wajib dilakukan demi keselamatan masyarakat.
“Kami meminta informasi penyebab ledakan ini dibuka secara terang kepada publik. Masyarakat perlu mengetahui zat apa yang terkandung dalam kebocoran tersebut karena ini menyangkut keselamatan warga sekitar dan para pekerja,” ujar Tb Rizki Andika.
Ia menilai insiden tersebut merupakan bentuk kelalaian serius dari pihak perusahaan dalam menerapkan standar keselamatan kerja dan sistem pencegahan dini K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Terlebih, informasi yang beredar menyebutkan terdapat korban kecelakaan kerja hingga mengalami patah tulang akibat ledakan tersebut.
“Ini bukan persoalan sepele. Jika benar ada korban hingga mengalami patah tulang, maka ini menunjukkan adanya dugaan lemahnya sistem pengawasan dan mitigasi risiko di area produksi industri,” tegasnya.
Sebagai akademisi Teknik Industri, Rizki menjelaskan bahwa dalam sistem industri modern, perusahaan wajib memiliki manajemen perawatan fasilitas produksi yang ketat dan terukur. Setiap peralatan produksi memiliki umur pakai, standar inspeksi berkala, preventive maintenance, hingga sistem deteksi dini terhadap potensi kebocoran maupun tekanan berlebih.
“Dalam perspektif teknik industri, fasilitas produksi tidak boleh hanya difokuskan pada target produksi semata. Ada sistem reliability maintenance, predictive maintenance, dan audit K3 yang harus dijalankan secara disiplin. Ketika terjadi ledakan, maka publik tentu mempertanyakan apakah sistem perawatan fasilitas produksi benar-benar dijalankan atau justru diabaikan,” jelasnya.
HMI Cabang Cilegon juga mendesak DLH Kota Cilegon agar segera menjelaskan kepada masyarakat terkait kandungan unsur dalam uap maupun kebocoran yang terjadi pasca ledakan. Menurutnya, transparansi penting agar masyarakat tidak dihantui ketakutan dan spekulasi.
“Kami meminta DLH terbuka kepada masyarakat. Jangan sampai publik dibiarkan bertanya-tanya terkait dampak lingkungan dan kesehatan akibat kebocoran tersebut,” lanjutnya.
Selain itu, HMI Cabang Cilegon meminta aparat penegak hukum yang menangani kasus ini untuk bekerja secara profesional, objektif, dan transparan dalam mengusut penyebab insiden tersebut.
“Penanganan kasus ini tidak boleh berhenti pada narasi kecelakaan biasa. Harus ada investigasi menyeluruh terkait kemungkinan kelalaian perusahaan dalam menjalankan standar keselamatan industri. Jangan sampai keselamatan pekerja dan masyarakat dikorbankan demi kepentingan produksi,” tutup Rizki. (**)
