Mei 5, 2026

Diduga Massa Bayaran, PII Banten Tegaskan Demo di Depan Polda Banten Bukan Kader

0
Aksi Demonstrasi di Depan Mako Polda Banten, Selasa 5 Mei 2026

BANTEN, KM — Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Provinsi Banten angkat suara terkait aksi unjuk rasa oleh sejumlah Mahasisiwa di Banten di Mapolda Banten pada Selasa (5/5/2026).

PW PII menegaskan, massa yang turun ke jalan dalam aksi tersebut bukan bagian dari kader resmi PII Banten.
Selain itu PII sudah membuat surat Klarifikasi yang menyatakan bahwa aksi tersebut bukan lah dari kader PII

Sekretaris Umum PW PII Banten, Ihya Ulumuddin, menyatakan pihaknya telah melayangkan surat klarifikasi ke kepolisian dengan nomor CF/SEK/010/V/1447-2026.
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa nama dirinya bukan Koordinator lapangan, serta aksi tersebut bukan berasal dari PW PII, Banten.

“Saya tidak terlibat dalam aksi itu, kami tegaskan, massa yang mendemo Polda Banten itu bukan bagian dari kader PII Banten. Kami tidak melakukan aksi tersebut,” tegasnya.

Lebih jauh, PII menilai fenomena ini mencerminkan lunturnya idealisme sebagian mahasiswa.

“Kami juga menyayangkan idealisme mahasiswa yang begitu mudah tergerus tanpa dasar yang jelas. Aksi seperti ini patut diduga sebagai bagian dari manajemen konflik kepentingan,” ujarnya.

PII Banten turut meminta aparat dan pemerintah daerah untuk menyikapi persoalan ini secara serius demi menjaga kondusivitas wilayah.

“Kami menghimbau kepada pemerintah, termasuk Kapolda Banten, agar memahami bahwa pendemo tersebut bukan institusi PII Banten. Perlu ada langkah menyeluruh agar tidak terjadi konflik yang tidak terkendali, provokasi, serta gangguan kamtibmas,” katanya.

PII Banten pun bahkan mencurigai adanya dugaan praktik pengerahan massa bayaran dalam aksi tersebut.

“Bisa saja mengatasnamakan PII tapi bukan Kader PII, mungkin bisa jadi masa bayaran” ujar nya

Dugaan ini menguat setelah beredar informasi terkait aliran dana sekitar belasan juta yang digunakan untuk menggerakkan massa

Dikabarkan terdapat transfer uang muka (DP) sebesar Rp2 juta melalui aplikasi Sea Bank sebagai biaya operasional awal.
Metode transaksi itu diduga sengaja digunakan untuk menghindari pelacakan.

Krakatau Media pun mencoba menghubungi seseorang berinisial BI yang dikabarkan menjadi Koordinator aksi, namun sampai berita ini terbit, BI belum merespons pesan WhatsApp (An/Red)

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *