
Oleh : Vande Liguna
Kehidupan manusia seringkali berjalan di atas jalur yang keliru. Banyak di antara kita terbiasa hidup dalam kebohongan, lalu dengan mudahnya menuding dan menyalahkan orang lain demi menutupi kekurangan diri sendiri. Hati mereka gemetar dan takut menghadapi kebenaran yang apa adanya—takut melihat kenyataan yang tidak dapat dibantah, serta takut untuk jujur mengakui kesalahan yang telah diperbuat.
Seringkali, tenaga dan pikiran hanya habis terpakai untuk membela diri semata. Kita membangun pertahanan yang kuat, merangkai kata demi kata agar diri tampak selamat dari kebohongan yang kita simpan dan tutupi rapat-rapat. Namun, ingatlah satu hal yang pasti: sepandai-pandainya kita menutup kebohongan, sekeras apa pun kita berusaha menyembunyikannya, pasti bau kebusukannya akan tercium juga. Tidak ada rahasia yang abadi tertimbun; waktu pada akhirnya akan mengungkap segala sesuatu yang tersembunyi.
Oleh karena itu, sebagai manusia kita wajib memiliki sifat kesatria. Seorang kesatria tidak gentar menyuarakan apa yang ia ketahui, tidak lari dari kenyataan, dan berani berdiri di atas kebenaran yang didasari fakta. Jangan biarkan kebenaran menjadi terzolimi—tertekan, terpinggirkan, dan dikhianati demi kenyamanan sesaat. Lebih baik jujur dan menghadapi resiko, daripada menjadi tawanan kebohongan diri sendiri yang kelak akan hancur lebur.
